membaca paper yang menyiksa

padi ini harus menyelesaikan target bacaan paper 8 biji lalu merangkumnya. itu harus. iya, bukan keinginan sendiri memang. diwajibkan sama dosen. nanti sore harus sudah dikumpulkan. terasa saya menjadi orang yang aneh. semaleman melototin paper berbahasa inggris. padahal saya tidak begitu bisa menggunakan bahasa ingris. jadinya saya seakan-akan sedang bertapa di mushollah dengan gaya modern. ngadep ke barat, konsentrasi namun ada leptop di depannya.

kegiatanku hari ini aku pangkas habis semua. demi nilai yang baik, saya rasa sebanding dengan usaha yang saya lakukan.

sesekali ada orang lewat depan rumah, lalu duduk di teras mushollah. mungkin mereka merasa aneh dengan pertapaanku, biasanya mereka nyeletuk dengan sapaan-sapaan yang berbeda juga. “sedang memantau cong??”,  “sieehh…, mak abered e…”, “pola nenggu essena dompetta oreng??”. atau apalah sapaan-sapaan nyeleneh mereka, sesuai dengan apa yang mereka bayangkan, mungkin. hehe…

baru saja mushollah ini ditinggalkan oleh obrolan ngawur 2 orang tetangga saya. 1 tukang ojek, satu penebus padi, ah, penebus padi, apa ya bahasa indonesianya. mungkin lebih tepat tengkulak, semoga saja “tengkulak” satu dari kosakata bahasa indonesia. :-). oia, cerita obrolan 2 orang itu. obrolan yang F sekali. bagaimana tidak, ternyata mereka memikirkan ide-ide yang terlalu gila untuk sebuah leptop. beberapa diantanya adalah satu orang bilang, “mun ngetik nyamah neng leptop epalengkap, bisa etangaleh oreng ruah bede dimmah, ano apah, omor berempah, lakonah apah, pegawai negri apa enjek, iyeh, percajeh ben, satea canggih sarah lah”. temen ngobrolnya menimpali, “masak bisah de’iyeh, dek remmah caranah?”. “beh, gempang jieh la.., kor la bede leptoppa ra lah”. “iyeh ngara, jek engkok ruah pan bile’nah pernah nangaleh leptop kiya neng kantor polisi, nyaman satea polisi gun neng kantoran malolo, gun negguk leptop egeji”. “beh iyeh, tekka’ah essena dompettah be’en moslem tao berempah essenah, jek la andik leptop”. “iye ta cong?”. si tukang ojek malah membebankan pertanyaan berapa isi dompetnya dilihat dari leptop saya. hadoh…, dengan pelan dan tidak ingin membuat mereka kecewa, saya bilang tidak bisa. nampak satu orang yang menggagas ide gila ‘sepertinya’ kecewa. satunya lagi malah gak percaya dengan pernytaan saya kalau leptop tidak bisa melihat isi dompet. 😐

perbincangan kedua tetanggaku tetap berlanjut. makin seru menjelaskan ‘leptop’ itu apa. mereka ternyata memiliki deskripsi masing masing. mulai leptop sebagai penunjuk arah. mencari barang hilang(mungkin maksud mereka mbah gugel). tempat membuat hape. ada yang bisa buat undangan juga. ada yang buat menebak penyakit. dan ternyata hayalan mereka cukup dekat dengan kecanggihan tingkat tinggi. bahkan melebihi dari bayangan saya tentang leptop.

sepertinya mereka mulai bosan dan ingin pergi dari mushollah. sebelum mereka pergi terdapat perbincangan menyesatkan yang tidak sengaja saya lakukan. salah satu bertanya, “dompet saya isinya berapa?”. “tiga rebu” jawab saya iseng, malah satunya lagi ngaku, “loh, itu bukan dompet dia, tapi dompet saya”. hah??, salah dompet??. “15 rebu” jawab sekali lagi sebgai pemuas keinsengan. “loh, bener, uang saya 15 rebu”. ups??!! :tepokJidat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s