Penyesalan selalu ada di akhir

beberapa bulan lalu aku sangat ambisius untuk menunda wisuda. aku mengambil cuti. benar, memang waktu itu finansial keluargaku kurang sehat. tapi, sejatinya masih mampu untuk membayar tagihan itu. hanya ego gak mau menerima uang abah aja yang bikin aku gak mau wisuda tahun ini. yab, aku mengambil cuti. 1 tahun, semester 8 dan 9.

kenapa cuti?

waktu itu aku benar-benar tidak punya uang sama sekali. ada banyak kegalauan yang aku pertimbangkan. salah satunya adalah, Uang. pertama kuliah aku minta biaya kuliah ke abah dengan perjanjian hanya 2 semester. dan aku bisa kuliah sampai di semester 3 dengan dana kuliah sharing dengan abah. banyak yang aku lakukan, mulai ‘nyopet’ hingga ikutan jadi corn broker, 😀 . susahnya mencari dana tak seimbang dengan apa yang aku dapatkan di kampus. beberapa kali menemui kajur untuk perbaikan. namun, tak jua menemukan perbaikan yang berarti. ada kekesalan dan kekecewaan. bahkan sampai berdebat kusir dengan ***** di baak tentang penggunaan ruang kelas bagi anak ukm robotika. hemm…, saat ini kusadari semua itu hanya buah dari kekesalan belaka. ya, kesal. mungkin mahasiswa lain tidaklah memikirkan bagaimana beratnya mencari uang. tinggal berangkat dengan motor pribadi, jreengg….., sampai di kampus lalu belajar. kalau tidak ada dosen yang datang, mungkin menganggap itu keberuntungan. karena mendapatkan uang saku tanpa harus belajar. (ganti paragraf ah, 🙂 )

mungkin sama, aku ingin kuliah, mereka ingin kuliah. aku ingin belajar, mereka juga ingin belajar. tapi apa yang aku rasakan sedikit berbeda. aku bukan anak cerdas. aku sedikit bodoh. lulus sma aku bercita-cita ke UGM. ingin mengambil jurusan aeronitikal injenering. dengan bekal sertifikat olimpiade yang tak ada artinya, aku terus bermimpi. dan terus terbuai oleh mimpi. mimpi untuk menjadi seperti bapak habibie. mimpi yang sebenernya terbangun sejak SD. mimpi indah tentang menerbangkan besi. yang terbayang adalah aksi sulap yang dapat dimanfaatkan. hehe…, bukan, bukan itu letak keindahan dari mimpi menerbangkan besi itu. keindahannya adalah bagaimana menerbangkan sesuatu dengan berbagai teori. ah, pokoknya ada keindahan disana. (ganti paragraf ah…)

cita-cita kuliah, ah, iya, saking terhimpitnya finansialku cita-citaku untuk menjadi seorang aeronikawan beralih menjadi: cita-citaku adalah kuliah. iya, kuliah. apapun jurusannya yang penting ada kaitannya dengan teknologi. usahaku untuk kuliah di awali dengan bertani tembakau. dengan 6.000 pohon, tiap hari disiram dengan penuh semangat. apalagi kalau menyiram tembakau di jam 11 malam dan jam 2 dini hari. di 2 waktu itu adalah waktu paling semangat untuk menyiram tembakau. tahukah kenapa? karena jika menyiram tembakau di waktu itu akan ada pesawat yang melewati (kira-kira) tepat di atas sawah nenekku. aku selalu bergumam, aku harus bisa bikin seperti itu juga. sesekali melirik ke atas dengan sinis, aku pasti bisa membuat yang seperti itu. aku pasti bisa. pasti bisa!. aku waktu itu (hingga sekarang) yakin aku pasti bisa memuat pesawat. dengan mimpi itu, bertani tembakau menjadi sangat sangat waww untuk aku jalani. penuh semangat. penuh harapan. jika kau kenal aku sehari-hari, maka kau takkan kenal aku waktu itu. aku sangat semangat. bahkan, aku anak yang baru belajar bertani, membuat keputusan bertani tembakau, membuat paloan, coklaan, arao, abubur, abubung, nyiram, nokok, hingga molong aku lakukan. dan tau kondisiku seperti apa? aku sempat sakit parah dan mencret darah(yang ini aku selalu aku sembunyikan, karena waktu itu aku takut mati). nah, pas prosesi paling seru dari bertani adalah saat bertransaksi dengan pedagang. prosesi ini aku mundur karena ketakutan. iya, aku takut usahaku akan tidak bisa membawaku ke bangku kuliah. dan……., benar sekali. aku menghasilkan uang 300rebu dari seluruh penghasilanku dari bertani tembakau 6000 pohon selama 3 bulan dengan prosesi yang rumit dan berat. aku semenjak itu, merasa aku takkan bertani tembakau kembali. dan mungkin seumur hidup. aku bukan petani ulung. oia, sebagai penambah cerita kesengsaraanku, uang 300rebu itu harus berbagi dengan paman-pamanku dan uangnya tidak langsung dibayar. masih menunggu setengah bulanan.

pendapatanku yang seperti itu, membuat penghargaanku terhadap keringatku anjlok total. 

 

[intermetzo]

aku eneg dengan aktifis kampus yang keseringan koar-koar melebihi koar-koarku.

aku eneg sekali!

apalagi yang sok idealis, agen of cenge lah, atau apalah. padahal organisasimu sampah! layaknya preman, bedanya korbannya adalah politikus. kau merengek mengemis ke politikus, lalu kau puja bak tak ada dosa. jika kau ada yang merasa sakit, maka buatlah organisasi yang bermanfaat langsung ke masyarakat. jangan hanya berakhir dalam tepuk tangan dan acara tanyakuran tanpa rasa syukur.

[/intermetzo]

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s