fobia sosial.

Memiliki sedikit orang dekat. Semakin sedikit semakin takut pada lingkungan sosial.
Dia merasa, dia tidak mampu menghadapi hidup tanpa orang-orang dekatnya. walau dalam hidupnya, dia sering ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya.
sebenarnya, ketakutannya bukan hanya pada lingkungan sosial, tapi ketakutan terbesarnya adalah kehilangan orang-orang terdekatnya. semakin takut dia kehilangan, semakin takut dia pada lingkungan sosial. seakan dia terjebak dalam lingkaran ketakutan.
sejatinya, dia sendiri, dalam ketakutannya. tak ada orang lain.
apakah dia tahu kondisinya?
    iya, dia tahu apa yang dialaminya.
apakah dia berusaha keluar dari ketakutannya?
    untuk apa? dia tidak memiliki alasan apapun untuk semua itu(kecuali bertahan hidup). dia telah menggunakan semua cara untuk menemukan alasan logis untuk dirinya. mulai mencoba mencampuri urusan orang lain, mencoba menjadi terbaik bagi orang lain, mencoba menyediakan semua waktunya untuk orang lain. hingga akhirnya dia hanya mampu menjadi apapun yang terjadi pada dirinya dalam kepasrahan dan keputus-asaan. dia sendiri, seperti batu kerikil kecil. tak mampu menjadi debu yang berterbangan, tak mampu menjadi pondasi suatu bangunan. ia, kerikil dipinggir jalan, menatap kesibukan orang-orang. yang ia rasakan, ketakutan pada apapun yang dia inginkan.

apa yang dia takuti?
bertemu orang baru, bertemu pada lingkungan baru, bertemu dengan tetangga, bertatap mata dengan orang lain, mengenal orang lain.
apa yang dia lakukan untuk bertahan hidup?
dia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menghadapi apa yang dia takuti. sesuatu yang sangat mudah bagi orang lain, namun dia harus berkeringat dan dengan adrenalin yang terpompa dengan kencang.
apa yang membuat dia tenang?
saat orang-orang dekatnya merasa tenang.