Mati

mati. aku pernah memiliki seorang teman. entah siapa. lalu tidak begitu lama, ibunya meninggal. kabar ibunya meninggal membuat ibuku sedih. ibu sangat menghawatirkan temanku. aku belum mengerti tentang kematian. dan ibuku membuat pengertian. ibuku memberikan bayangan tentang kematian seorang ibu. itu membuatku sedih. lebih sedih dari temanku.
setiap hari aku murung. temanku itu menghiburku. mengajakku memancing di sungai berdua. mengejar layangan. mencari labalaba. dan aku masih tidak mampu menyembunyikan kesedihanku.
sejak itu aku berdoa untuk menjauhkan kematian dari ibuku. setiap berangkat sekolah aku selalu menoleh ke rumah. “tunggu aku pulang” dalam benakku kuat-kuat. sejak itu aku tidak pernah telat pulang. aku bermain selalu tak terlalu jauh dari rumah. sekali ada kesempatan pulang, biasanya aku langsung pulang. aku mulai betah di rumah. dan jarang sekali aku bermain terlalu lama di luar. aku ketakutan.

aku mulai mengenal kematian. ibuku akan pergi dan tidak pernah kembali.
lalu, aku selalu membayangkan hal-hal yg diluar nalar. mengumpulkan berbagai alasan kematian ibuku . mulai hal sederhana seperti ibu salah menaruh gula yg tertukar dengan pupuk(ini yg sangat aku harapkan, karena kemungkinan aku akan ikut mati). hingga ibuku akan dibunuh orang karena ‘keras’-nya abah. aku terus merangkai berbagai kemungkinan. dan aku semakin gila.
tidak begitu lama, ibuku meninggal dalam doa-doaku. dan sejak itu, aku tidak bisa mengingat siapa temanku itu. siapa namanya, seperti apa wajahnya. hingga kini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s